Langsung ke konten utama

Puasa Pekan Ke-2 Mengelola Emosi + Mengatur Jajan Anak #Jurnal 2

Bismillahirrohmannirrohim
Masuk dipekan kedua puasa tahap kepompong, saya masih mencoba konsisten seperti dipuasa pekan pertama yaitu mengelola emosi agar tak mudah marah atau terpancing emosi ketika berhadapan dengan anak-anak, kemudian pada pekan ini saya tambah puasanya dengan mengatur jajan 2 anak saya dengan jumlah nominal maksimal 20.000 per hari serta mencatat semua transaksi keuangan.
Alhamdulillah puasa dipekan ini berjalan lancar, berikut rincian yang saya buat berdasarkan badge yang didapat setiap harinya:
Sabtu, 17 april 2021 saya memulai puasa mengatur jajan anak dan mencatatnya di aplikasi catatan keuangan tak lupa memanaj emosi ketika anak mulai menunjukkan perilaku yang menurut saya tak sesuai keinginan. Untuk permulaan alhamdulillah lancar kuberikan badge satisfactory.

Minggu, 18 april 2021  masih sama seperti hari sebelumnya, saya masih menyesuaikan jajan anak-anak dan mencatatnya diaplikasi, hari ini saya belanja sayur untuk kebutuhan 1 minggu sebesar 100.500 sudah plus jajan anak-anak. Badge hari ini satisfactory.

Senin, 19 april 2021 hari ini over budget karena saya membuat nasi kuning untuk syukuran miladnya Nada (anak kedua), emosi terkendali dan saya mencatat pengeluaran sebesar 165.000. Kuberikan badge very good.

Selasa, 20 april 2021 saya mencatat pengeluaran jajan anak-anak sebesar 20.000 Alhamdulillah sesuai target. Kuberikan badge verry good.

Rabu, 21 april 2021 untuk hari ini saya membeli takjil diluar, sehingga ada pengeluaran tambahan tak hanya jajan anak-anak, jumlah jajan hari ini sebesar 37.000 sehingga saya berikan badge Satisfactory.

Kamis, 22 april 2021 Hari ini jajan dan beli air galon dengan total pengeluaran pada post jajan sebesar 20.000 Alhamdulillah akhirnya mendapatkan badge Excellent.

Jumat, 23 april 2021 pada hari ini anak-anak jajan sebesar 15.000 Maa Syaa Allah rekor baru, otomatis kuberikan badge Excellent

Alhamdulillah bisa belajar mengerem anak-anak untuk mengatur jajan, jika biasanya mereka tak terkontrol saat jajan karena bolak-balik kewarung neneknya, saya mencoba mengatur jajan mereka agar tak sedikit-sedikit minta jajan. Hasilnya terlihat mereka agak berkurang porsi jajannya dan ternyata bertambah keporsi makan. Karena biasanya mereka susah untuk makan, karena dirumah sekarang agak berjarak dengan warung jadi sekarang mereka lahap memakan makanan berat.

#institutibuprofesional
#hutankupucekatan
#tahapkepompong
#latihilmunya30hari
#jurnal2



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Memasak (day 7)

Hari ketujuh pada tantangan kali ini saya mencoba memasak kembali, saya mengundangan para ustadz dan ustadzah untuk ngeliwet dikantor, saya bagian masaknya. Sejak pagi saya sudah mulai siap-siap, belanja kepasar diantar oleh suami sambil bawa si kecil Alifya. Tak perlu waktu lama, cukup 30menit pulang pergi untuk belanja masakan karena pasar juga cukup dekat dari kantor. Rencana nya saya akan memasak tumis kangkung, tumis toge tahu, ayam goreng, lalap, sambal, tahu dan tempe goreng. Terlihat sederhana, tapi ketika saya kerjakan sendiri cukup merepotkan juga ditambah ngasuh Alifya alhasil kesana kemari, persiapan masak dari jam 8, baru beres jam 2 siang (diseling buat sarapan, potong-potong sayur, sholat dzuhur dll). Ketika selesai shalat dzuhur alhamdulillah ada relawan yang mau bantu-bantu, kebetulan juga Alifya lagi ga mau ditinggal, jadinya temen yang meneruskan masak. Saya sudah menyiapkan semua bumbu nya, tinggal dimasak aja, temen bagian goreng krupuk, goreng tempe mendoan en nya...

Melatih Kecerdasan Emosional De Alifya

Bismillahirrohmanirrohim Ketika mendapat materi ketiga Bunsay ini saya sempat kaget.. kenapa.. karena materi yang dibahas sama seperti skripsi yang saya buat.. tentang kecerdasan emosional sayangnya saya tak bisa tepat waktu mengerjakan, baru dihari kelima ini saya bisa mengerjakannya. Kali ini saya memilih partner anak saya Alifya yang baru berusia 6 bulan, karena diusianya yang masuk golden ages begitu banyak potensi kecerdasan yang bisa dilatih. Pertama, saya selalu menyempatkan untuk mengajaknya berkomunikasi,berbincang-bincang dengannya, sampai apapun objek yang saya lihat saya utarakan pada Alifya, seperti sedang memakaikan pakaian, memegang tangan atau sedang jalan-jalan terkadang reflek saja menjelaskan ini-itu kepadanya. Kedua, saya berusaha untuk merespon apa yang dia ungkapkan dalam kondisi senang, menangis, jika ingin bermain, bahkan kesal karena terlalu lama menunggu. Disini saya berusaha mengungkapkan ekspresi Alifya, seperti: "dede kesel ya ditinggal ummi kedapu...