Langsung ke konten utama

PERAN AYAH DALAM PENDIDIKAN FITRAH SEKSUALITAS (Review Materi Kelompok 7)


Diskusi oleh: Desi Irma S|Dewi Suryani|Nisa Nurul Ilmi|Nurhasanah|Syifa Nurani M

Latar Belakang
Ø  Indonesia menjadi salahsatu negara yatimyang mencapai peringkat ketiga sebagai fatherless country setelah Amerika
Ø  Ketidakhadiran peran ayah memunculkan penyimpangan orientasi seksual pada anak yang dimulai dari kebingungan identitas dan peran gender yang sepatutnya ditiru oleh anak

“fatherless country yaitu sebuah negara yang ditandai dengan keadaan atau gejala dari masyarakatnya berupa kecenderungan tidak adanya peran, keterlibatan figure ayah secara signifikan dan hangat dalam kehidupan sehari-hari seorang anak dirumah.”

Dampak fatherless country Terhadap Fitrah Seksualitas untuk Anak Perempuan

1.       Anak perempuan yang tidak dekat dengan ayahnya pada usia  10-14 tahun berpeluang besar menyerahkan yubuh dan kehirmatannya pada lelaki yang dianggap dapat menggantikan sosok ayahnya yang hilang
2.       Hubungan dengan ayah merupakan faktor yang penting dalam perkembangan psikologi-seksual perempuan. Hubungan yang tidak tepat bisa mengantarkan anak menjadi tomboy atau lesbian
3.       Ketiadaan ayah dapat mempercepat umur awal perempuan mendapatkan menstruasi
4.       Hubungan antara ayah dan anak perempuan juga menentukan kualitas dan keberhasilan hubungan anak perempuan dengan pasangannya dimasa yang akan datang
5.       Perempuan pada rentang usia 15-19 tahun yang tumbuh dala keluarga tanpa ayah, cenderung memulai aktifitas seksual lebih dini, memiliki partner seks lebih banyak dan memiliki hubungan tak menentu

Dampak fatherless country Terhadap Fitrah Seksualitas untuk Anak Laki-Laki

1.       Hubungan dengan ayah merupakan faktor yang sangat penting dalam sosio sentris anak lelaki
2.       Ketiada peranan ayah pada usia 7-10 tahun beresiko membuat anak lelaki tidak mempunyI role mode lelaki sejati untuk bersikap tegas menolak segala hal negative yang ditawarkan oleh lingkungan luar atau teman sebayanya, sehingga mudah terjerat narkoba , seks bebas dan kenakalan remaja
3.       Ketiadaan peranan ayah pada usia 7-10 tahun membuat anak tidak jelas dengan identitasnya sehingga muncul potensi awal homoseksual dan penyimpangan seksual lainnya
4.       Anak lelaki yang tumbuh tanpa ayah berdampak kurangnya edukasi dan pemahaman anak tentang masa pubertasnya
5.       Anak lelaki yang tidak dekat dengan ayahnya akan mewariskan pola pengasuhan dan adab dari ayahnya kepada keluarganya kelak

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Memasak (day 7)

Hari ketujuh pada tantangan kali ini saya mencoba memasak kembali, saya mengundangan para ustadz dan ustadzah untuk ngeliwet dikantor, saya bagian masaknya. Sejak pagi saya sudah mulai siap-siap, belanja kepasar diantar oleh suami sambil bawa si kecil Alifya. Tak perlu waktu lama, cukup 30menit pulang pergi untuk belanja masakan karena pasar juga cukup dekat dari kantor. Rencana nya saya akan memasak tumis kangkung, tumis toge tahu, ayam goreng, lalap, sambal, tahu dan tempe goreng. Terlihat sederhana, tapi ketika saya kerjakan sendiri cukup merepotkan juga ditambah ngasuh Alifya alhasil kesana kemari, persiapan masak dari jam 8, baru beres jam 2 siang (diseling buat sarapan, potong-potong sayur, sholat dzuhur dll). Ketika selesai shalat dzuhur alhamdulillah ada relawan yang mau bantu-bantu, kebetulan juga Alifya lagi ga mau ditinggal, jadinya temen yang meneruskan masak. Saya sudah menyiapkan semua bumbu nya, tinggal dimasak aja, temen bagian goreng krupuk, goreng tempe mendoan en nya...

Melatih Kecerdasan Emosional De Alifya

Bismillahirrohmanirrohim Ketika mendapat materi ketiga Bunsay ini saya sempat kaget.. kenapa.. karena materi yang dibahas sama seperti skripsi yang saya buat.. tentang kecerdasan emosional sayangnya saya tak bisa tepat waktu mengerjakan, baru dihari kelima ini saya bisa mengerjakannya. Kali ini saya memilih partner anak saya Alifya yang baru berusia 6 bulan, karena diusianya yang masuk golden ages begitu banyak potensi kecerdasan yang bisa dilatih. Pertama, saya selalu menyempatkan untuk mengajaknya berkomunikasi,berbincang-bincang dengannya, sampai apapun objek yang saya lihat saya utarakan pada Alifya, seperti sedang memakaikan pakaian, memegang tangan atau sedang jalan-jalan terkadang reflek saja menjelaskan ini-itu kepadanya. Kedua, saya berusaha untuk merespon apa yang dia ungkapkan dalam kondisi senang, menangis, jika ingin bermain, bahkan kesal karena terlalu lama menunggu. Disini saya berusaha mengungkapkan ekspresi Alifya, seperti: "dede kesel ya ditinggal ummi kedapu...