Langsung ke konten utama

FITRAH SEKSUALITAS Studi Kasus dan Catatan Pembelajaran tentang Pentingnya Pendidikan Seksualitas pada Anak



Disusun oleh:
Kelompok 4 Kelas Bunda Sayang #3 Bandung #1
(Citra Amalia, Dessy Natalia, Dian Ramadhani, Eka Nurcahyanti, Mirra Nurhayati)

STUDI KASUS

Catatan Studi Kasus yang Pernah Ditangani terkait Penyimpangan Perilaku Seksual
Oleh: Dian Ramadhani (sebagai guru BK siswa A dan siswa B saat itu)

Kasus terjadi di sekolah dengan sistem sekolah berasrama yang saat kasusnya muncul sedang memasuki tahun pertama pemberlakuan sistem asrama terpisah antara ikhwan dan akhwat. Jika sebelumnya siswa "ngeceng" dengan lawan jenis, pemberlakuan sistem baru menyebabkan interaksi dengan lawan jenis semakin terbatas. Inilah awal munculnya kasus penyimpangan perilaku antarsiswa dengan gejala menyukai sesama jenis (lesbian).

Siswa yang pernah ditangani ini berinisial A dan B. Saat itu mereka tercatat sebagai siswa kelas 9 dalam satu kelas yang sama. Siswa A memiliki karakter yang mudah bergaul, cerdas, rasa ingin tahunya tinggi dan cenderung sensitif. Secara umum, siswa A memiliki karakter yang sangat feminin. A adalah anak bungsu dengan latar belakang ekonomi dari keluarga berada. Ayah Ibunya sibuk berbisnis hingga sering bolak-balik ke luar negeri. A tinggal di rumahnya hanya dengan kakak-kakak dan pembantunya.

Siswa B karakternya berani, cerdas, senang mencoba segala sesuatu, senang memimpin dan cenderung kaku dalam bergaul. Secara umum, siswa B ini memiliki karakter yamg tomboy. Siswa B ini adalah siswa yang mendapat beasiswa dari sekolah karena termasuk dari latar belakang keluarga yang kurang mampu. Ayah Ibunya bekerja sebagai pedagang di sebuah toko, yang itu pun membuat mereka lebih banyak menunggui toko dibanding bersama-sama di rumah. Siswa B adalah seorang anak sulung, sehingga orangtuanya kerap meminta B untuk menjaga adik-adik dan mengatur urusan rumah sendiri sedari B masih kecil.

Siswa A dan B memiliki kesenangan yang sama di dunia seni. Siswa feminin suka bernyanyi, sedangkan yang tomboy pintar bermain gitar. Saat kasus ini bermula, mereka adalah teman satu kamar tidur dengan posisi ranjang mereka sama-sama di atas dan bersebelahan.

Kondisi keduanya adalah sama-sama merasa kesepian karena tidak diberi perhatian dari orangtua. Karena karakter keduanya yang saling mengisi (klop), membuat mereka jadi semakin dekat. Bahkan, mereka memiliki buku diary bersama yang ditulis secara bergantian. Dalam tulisan-tulisannya, mereka mulai memainkan peran. Siswa A menjadi sosok perempuan dan siswa B menjadi sosok laki-laki.

Percakapan yang tertulis semakin intens layaknya laki-laki dan perempuan yang memiliki hubungan, bahkan memiliki panggilan khusus. Semakin hari kedekatan mereka semakin intens hingga senang sekali berduaan ke mana pun. Posisi tidur mereka yang berdekatan meski berbeda kasur, membuat mereka semakin "berani". Hal itulah yang kemudian membuat mereka sampai bisa melakukan aktivitas-aktivitas seksual yang tidak seharusnya.

Mirisnya, siswa A dan B mengaku jika mereka sering melihat adegan seks yang berawal dari video klip kemudian berlanjut ke film porno. Bahkan sedihnya, siswa A pernah melihat langsung kakaknya bersetubuh dengan pacarnya saat di rumah ketika orangtua mereka sedang bertugas ke luar negeri. Pengalaman ini membuat siswa A penasaran untuk mencoba melakukannya. Karena siswa A merasa ‘pas’ dengan siswa B yang karakternya benar-benar seolah-olah mengayomi dirinya, akhirnya mereka pun melakukan kasus penyimpangan perilaku tersebut.

Pembahasan Studi Kasus

Mengacu pada pemaparan Ibu Elly Risman pada sidang Judicial Review UU Zina, Pornografi dan LGBT, beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya penyimpangan seksualitas yang terjadi pada kasus di atas adalah sebagai berikut:
1.    Pola Pengasuhan yang Kurang Tepat
Pola asuh orangtua merupakan segala bentuk dan proses interaksi yang terjadi antara orangtua dan anak. Pola asuh dalam keluarga akan memberi pengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak dan sangat mempegaruhi konsep diri anak.
Fakta membuktikan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh kesehatan emosional keluarga dan cara orangtua mendidik anak. Orangtua yang tidak peduli menyebabkan anak menjadi lemah dalam BMM (Berpikir, Memilih dan Mengambil Keputusan). Sedangkan, perkembangan fitrah seksualitas harus sejalan dengan tuntasnya fase egosentris pada anak-anak usia 0-7 tahun dengan orangtua sebagai pendamping.
Hal ini sangat penting untuk menuntaskan fitrah individualitas anak-anak sehingga kemudian ia tumbuh menjadi anak yang tidak mudah dibully atau dipengaruhi teman-temannya dan mampu mempertahankan pendapatnya sendiri sehingga akan menjadi imun terhadap perilaku LGBT.
Dari hasil penelitian Wulandari (2010) membuktikan apabila pola asuh yang demokratis yang diterapkan dengan baik, maka tingkat perilaku seksual remaja akan rendah. Sedangkan, penelitian Setiyati (2006) membuktikan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pola asuh otoriter dengan perilaku seksual remaja. Artinya, semakin otoriter pola asuh orang tua, maka perilaku seksual remaja akan semakin tinggi.
Mengenai pola asuh permisif, Baumrind (2004) mengatakan bahwa perilaku seksual pranikah yang dilakukan oleh remaja lebih cenderung disebabkan terlalu longgarnya pengawasan dan aturan yang diterapkan orangtua.


2.    Tidak Hadirnya Sosok Ayah di Dalam Proses Pengasuhan
Kurangnya peran ayah dalam pengasuhan anak laki-laki membuat kurangnya teladan sosok laki-laki dari sang ayah. Sedangkan, pada anak perempuan, kurangnya kasih sayang ayah ini membuat anak perempuan mencari kasih sayang dari sosok lain.
3.    Terpapar Pornografi
Anak lebih mudah terpapar pornografi melalui pemakaian gadget yang terlalu bebas. Konten pornografi yang awalnya tidak sengaja terlihat oleh anak akan menyebabkan otak menghasilkan dopamin yang membuat anak kecanduan. Selain kecanduan, anak-anak yang otaknya belum bersambungan juga merasa ingin untuk meniru apa yang ada di dalam konten pornografi tersebut.
4.    Subkontrak Pendidikan Agama
Maksud dari subkontrak di sini adalah orangtua tidak terlibat langsung dalam memberikan pengajaran dan teladan mengenai nilai-nilai agama, tetapi menyerahkannya pada orang di luar keluarga.
5.    Keinginan Meniru dan Rasa Ingin Tahu
Anak pada dasarnya memiliki kemampuan yang cepat dalam menyerap apa yang dilihatnya dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Saat anak sudah masuk pada pergaulan yang kurang baik, maka kemampuan tersebut menjadi bumerang untuk mencoba dan ketagihan pada hal yang tidak seharusnya.

CATATAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN SEKSUALITAS PADA ANAK

Apa definisi fitrah seksualitas, seks dan reproduksi sehat?

Fitrah artinya setiap manusia yang dilahirkan di dunia ini akan mampu berkembang menuju pada keadaan yang lebih baik tanpa memandang lingkungan individu maupun sosialnya. Karena pada hakikatnya, setiap manusia bercita-cita untuk mencapai kesempurnaan diri sesuai dengan sifat kelembutan dan kecerdasan intelektualnya. (Syamsudin, 1996)

Seksualitas adalah sebuah proses sosial yang dikonstruksikan secara sosial (the social constructed expression of erotic desire) menciptakan dan mengarahkan hasrat atau birahi yang pada dasarnya bersifat positif dalam hidup manusia. Seks merupakan sumber peradaban manusia, karena tanpa adanya dorongan seksual, kehidupan manusia tak bisa berlangsung sampai saat ini. Dalam kajian gender, seksualitas tidak terkait dengan faktor-faktor biologis, melainkan faktor-faktor sosial, yaitu terjadinya diferensiasi peran laki-laki dan perempuan.

Dari kedua definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa fitrah seksualitas adalah bawaan yang dimiliki setiap manusia, yang diberikan oleh Tuhan, mengenai ciri, sifat atau peranan seks, termasuk di dalamnya dorongan seks dan kehidupan seks. Sehingga menurut definisi tersebut, seksualitas bukanlah hal yang aneh atau tabu untuk diperkenalkan kepada anak karena merupakan hal yang sangat alamiah.

Sejak kapan kita bisa memperkenalkan fitrah seksualitas pada anak?

Orangtua bisa mulai memperkenalkan fitrah seksualitas pada anak sedini mungkin, terutama ketika anak sudah bisa diajak berkomunikasi. Dalam memperkenalkan fitrah ini, sebaiknya orangtua memperhatikan setiap fase perkembangan anak. Untuk anak-anak di bawah 6 tahun, fase-fase perkembangannya adalah sebagai berikut:
1.    Usia 2-3 tahun: pada usia ini kosa kata yang dimiliki anak sudah bertambah. Anak-anak di usia ini sedang gemar menirukan kata-kata yang diucapkan oleh orangtuanya. Oleh karena itu, kita bisa memanfaatkan momen ini untuk memperkenalkan nama alat kelamin dengan nama sebenarnya, seperti penis untuk anak laki-laki dan vagina untuk anak perempuan.
2.    Usia 3-4 tahun: cara berpikir anak sudah mulai kritis pada usia ini. Sebaiknya orangtua sudah mulai menyiapkan pertanyaan-pertanyaan seputar seksualitas, seperti, “Dari mana adik bayi berasal?” atau “Mengapa ibu tidak memiliki penis?” dan lain-lain. Hal yang bisa dilakukan orangtua adalah tetap tenang saat anak bertanya dan jawablah dengan jujur sesuai dengan umur anak.
3.    Usia 5-6 tahun: pada usia ini, anak sudah mulai bisa berpikir lebih kompleks sehingga orangtua bisa memberikan jawaban yang lebih kompleks pula.

Siapa saja yg sebaiknya terlibat dalam diskusi ini?

Untuk menumbuhkan fitrah seksualitas yang indah dan paripurna dibutuhkan peran ayah dan ibu yang seimbang. Berikut penjelasannya:
Prinsip 1: Fitrah seksualitas memerlukan kehadiran, kedekatan, kelekatan Ayah dan Ibu secara utuh dan seimbang sejak anak lahir sampai usia akil balig (15 tahun).
Prinsip 2: Ayah berperan sebagai pemberi Suplai Maskulinitas dan Ibu berperan sebagai pemberi Suplai Femininitas secara seimbang. Anak lelaki memerlukan 75% suplai maskulinitas dan 25% suplai feminitas, sedangkan anak perempuan memerlukan suplai femininitas 75% dan suplai maskulinitas 25%.
Prinsip 3: Mendidik fitrah seksualitas sehingga tumbuh indah paripurna akan berujung kepada tercapainya Peran Keayahan Sejati bagi anak lelaki dan Peran Keibuan sejati bagi anak perempuan. Buahnya berupa adab mulia kepada pasangan dan anak keturunan.

Anak-anak yang kehilangan salah satu sosok orangtua baik karena meninggal atau karena perceraian maka wajib segera diberikan sosok pengganti sampai mencapai akil balig, baik dari keluarga besar maupun komunitas/jamaah kaum Muslimin.

Fitrah Seksualitas ini tidak tumbuh berdiri sendiri, namun harus diiringi dengan tumbuhnya fitrah lainnya seperti fitrah keimanan, fitrah individualitas dan fitrah sosialitas sehingga tidak mudah tertular penyimpangan seksual oleh lingkungan.

LGBT jelas adalah penyimpangan fitrah seksualitas yang disebabkan bukan oleh alasan genetik tetapi karena salah pengasuhan atau tidak diagendakan dalam pendidikan atau penularan perilaku lingkungan.


Mengapa fitrah seksualitas ada pada diri kita?

Fitrah seksualitas ada pada diri kita karena pada dasarnya setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Hal ini artinya manusia dilahirkan dalam keadaan sama-sama lemah meskipun masing-masing individu menyimpan potensi yang sangat besar. Namun, bukan berarti manusia ketika dilahirkan seperti kertas putih yang kosong, seperti yang dikatakan John Lock, karena manusia memiliki poteni yang berupa kecenderungan-kecenderungan tertentu yang menyangkut daya nalar, mental, maupun psikis yang berbeda-beda jenis dan tingkatannya.

Tantangan apa saja yang dihadapi terkait dengan gender?

1.    Ketiadaan peran ayah dalam pengasuhan.
2.    Kampanye LGBT yang semakin marak.
3.    Pedofilia mengincar anak-anak.
4.    Tergerusnya feminimitas dan maskulinitas.
5.    Arus informasi yang tak terbatas sehingga anak mudah mendapatkan info yang menyimpang.

Bagaimana solusi menghadapi tantangan itu?

Dalam menghadapi berbagai tantangan seputar gender tersebut, terdapat beberapa solusi yang dapat dilakukan orangtua:
1.    Memperkuat Konsep Peran Laki-laki dan Perempuan dalam Alquran (An-Nisa:34)
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)… “

2.    Menghadirkan Peran Ayah dalam Pendidikan Keluarga
Peran ayah dalam keluarga adalah:
ü  Sebagai pemimpin dalam keluarga ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.
ü  Sebagai teladan yang baik sehingga perilaku dan akhlaknya ditiru oleh anak.
ü  Sebagai pembimbing keluarga, membimbing anak dan istri untuk taat beragama.
ü  Sebagai pengajar pertama untuk anak-anaknya, mengajarkan ilmu-ilmu agama, ilmu sosial serta ilmu dunia untuk bekal anaknya kelak.
ü  Sebagai pemberi nafkah dalam keluarga.
ü  Ayah memberikan kasih sayang seperti yang diajarkan Rasulullah SAW.
3.    Membantu Anak dalam Mengenali Identitas Seksualnya
ü  Anak paham siapa dirinya: laki-laki atau perempuan.
ü  Orangtua memperkenalkan organ seksual yang ada pada diri si anak dengan nama ilmiah.
4.    Membantu Anak Memahami peran seksualnya
Anak mengerti bagaimana ia bersikap, berbicara, berpikir, berpakaian dan lain-lain sehingga ia tegas mengatakan, “Saya laki-laki” atau ”Saya perempuan”.
5.    Keterbukaan Komunikasi antara Orangtua dan Anak
6.    Anak perlu diajari tentang orientasi seksual, bahwa laki-laki itu tertarik dan hanya boleh menikah dengan perempuan begitupun sebaliknya.

Selain itu, terdapat tiga prinsip dalam mendidik seksualitas anak, yaitu:
1.    Seksualitas yang Benar
Pendidikan seksualitas yang sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai yang diajarkan dalam agama.
2.    Seksualitas yang Sehat
Anak terbiasa menjaga kesehatan organ reproduksinya. Anak diajari tentang bagian dan fungsi tubuh, cara merawatnya, sekaligus bagaimana seharusnya anak melindungi bagian-bagian tubuhnya.
3.    Seksualitas yang Lurus
Tugas orangtua adalah mendidik anak agar tetap sesuai fitrahnya, yakni anak laki-laki tumbuh dan berperilaku selayaknya anak laki-laki dan anak perempuan selayaknya anak perempuan.

Pastikan bahwa kita (orangtua) adalah sumber pertama dan utama anak dalam memahami seksualitas. Pengetahuan seksualitas yang mumpuni dan keluar dari tabu adalah modal awal yang dibutuhkan anak dari kedua orangtuanya untuk menjelaskan tentang seksualitas.
“Bunda Elly Risman”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Memasak (day 7)

Hari ketujuh pada tantangan kali ini saya mencoba memasak kembali, saya mengundangan para ustadz dan ustadzah untuk ngeliwet dikantor, saya bagian masaknya. Sejak pagi saya sudah mulai siap-siap, belanja kepasar diantar oleh suami sambil bawa si kecil Alifya. Tak perlu waktu lama, cukup 30menit pulang pergi untuk belanja masakan karena pasar juga cukup dekat dari kantor. Rencana nya saya akan memasak tumis kangkung, tumis toge tahu, ayam goreng, lalap, sambal, tahu dan tempe goreng. Terlihat sederhana, tapi ketika saya kerjakan sendiri cukup merepotkan juga ditambah ngasuh Alifya alhasil kesana kemari, persiapan masak dari jam 8, baru beres jam 2 siang (diseling buat sarapan, potong-potong sayur, sholat dzuhur dll). Ketika selesai shalat dzuhur alhamdulillah ada relawan yang mau bantu-bantu, kebetulan juga Alifya lagi ga mau ditinggal, jadinya temen yang meneruskan masak. Saya sudah menyiapkan semua bumbu nya, tinggal dimasak aja, temen bagian goreng krupuk, goreng tempe mendoan en nya...

Melatih Kecerdasan Emosional De Alifya

Bismillahirrohmanirrohim Ketika mendapat materi ketiga Bunsay ini saya sempat kaget.. kenapa.. karena materi yang dibahas sama seperti skripsi yang saya buat.. tentang kecerdasan emosional sayangnya saya tak bisa tepat waktu mengerjakan, baru dihari kelima ini saya bisa mengerjakannya. Kali ini saya memilih partner anak saya Alifya yang baru berusia 6 bulan, karena diusianya yang masuk golden ages begitu banyak potensi kecerdasan yang bisa dilatih. Pertama, saya selalu menyempatkan untuk mengajaknya berkomunikasi,berbincang-bincang dengannya, sampai apapun objek yang saya lihat saya utarakan pada Alifya, seperti sedang memakaikan pakaian, memegang tangan atau sedang jalan-jalan terkadang reflek saja menjelaskan ini-itu kepadanya. Kedua, saya berusaha untuk merespon apa yang dia ungkapkan dalam kondisi senang, menangis, jika ingin bermain, bahkan kesal karena terlalu lama menunggu. Disini saya berusaha mengungkapkan ekspresi Alifya, seperti: "dede kesel ya ditinggal ummi kedapu...