Langsung ke konten utama

MEMPERSIAKAN ANAK MENUJU AQIL BALIGH (REVIEW MATERI KELOMPOK 6)


Diskusi oleh: Karnesia Zoula|Diona Puspika Sari|Iis Permanawati|Ratna Sari Dewi|Titi Estiningrum

Definisi
Aqil Baligh berasal dari Bahasa arab yaiyu aqala (berakal) dan balagha (sampai). Aqil baligh adalah usia dimana seseorang telah dibebani hukum syariat (taklif), mampu mengetahui atau mengerti hokum tersebut  (Ensiklopedia Hukum Islam)

Pentingnya Pendidikan Seks Bagi Anak Menjelang Aqil Baligh
1.       Kebutuhan remaja agar mengetahui organ reproduksinya
2.       Mengetahui tentang seks agar memahami perilaku seksual yang beresiko
3.       Mencegah dampak perilaku seksual seperti : masturbasi, onani, petting, seks bebas, KTD dan aborsi
4.       Membekali anak agar mengendalikan dorongan seks sesuai ajaran islam
5.       Sebagai bekal kelak mereka menikah

Cara Menjaga Kebersihan dan Kesehatan diri
1.       Penggantian pakaian dalam minimal 2 kali sehari
2.       Membersihkan organ reproduksi luar dari arah depan kebelakang  menggunakan air bersih dan dikerinkan menggunakan handuk atau tissue
3.       Tidak mencuci vagina dengan cairan pembersih kewanitaan
4.       Tidak memakai panty liner dalam waktu lama
5.       Pergunakan pembalut ketika menstruasi, dan ganti paling lama selama 4 jam atau setelah kencing
Siapa Saja yang Terlibat?
1.       Ayah berperan memberikan suplai maskulinitaas  (SM)
2.       Ibu memberikan suplai feminitas (SF) secara seimbang
3.       Anggota keluarga lain (kakek, nenek, paman, tante, termasuk pengasuh )
4.       Pihak lain yang pandangannya objektif dan benar tentang Pendidikan seks. Missal : Guru, dokter, paramedis, psikolog atau Lembaga konseling
Anak laki-laki memerlukan 75% SM + 25% SF
Anak perempuan memerlukan 75% SF + 25% SM
Tindakan Prefentif
1.       Pengenalan Pendidikan seksualitas sejak usia dini
2.       Pendidikan fiqih pada anak (cara bersuci dari hadast, cara buang hajat, cara mncuci pakaian dari najis)
3.       Meminta ijin ketika memasuki kamar oranglain atau orangtua
4.       Pemisahan tempat tidur anak laki-laki dan anak perempuan
5.       Mengajarkan tentang mahram, aurat, dan membudayakan rasa malu
6.       Mengajarkan anak tentang adab pergaulan (tidak berkhalwat dan berikhtilaf)
7.       Mengajarkan anak menjaga pandangan
8.       Larangan terhadap tindakan erotis
9.       Mengawasi kematangan seksual dini
10.   Mengarahkan anak agar memiliki waktu yang produktif

 Rumah adalah madrasah pertama untuk anak kitaDimana ayah sebagai kepala madrasahDan ibu sebagai gurunyaMaka….Jadilah guru terbaikUntuk anak-anak kita

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Memasak (day 7)

Hari ketujuh pada tantangan kali ini saya mencoba memasak kembali, saya mengundangan para ustadz dan ustadzah untuk ngeliwet dikantor, saya bagian masaknya. Sejak pagi saya sudah mulai siap-siap, belanja kepasar diantar oleh suami sambil bawa si kecil Alifya. Tak perlu waktu lama, cukup 30menit pulang pergi untuk belanja masakan karena pasar juga cukup dekat dari kantor. Rencana nya saya akan memasak tumis kangkung, tumis toge tahu, ayam goreng, lalap, sambal, tahu dan tempe goreng. Terlihat sederhana, tapi ketika saya kerjakan sendiri cukup merepotkan juga ditambah ngasuh Alifya alhasil kesana kemari, persiapan masak dari jam 8, baru beres jam 2 siang (diseling buat sarapan, potong-potong sayur, sholat dzuhur dll). Ketika selesai shalat dzuhur alhamdulillah ada relawan yang mau bantu-bantu, kebetulan juga Alifya lagi ga mau ditinggal, jadinya temen yang meneruskan masak. Saya sudah menyiapkan semua bumbu nya, tinggal dimasak aja, temen bagian goreng krupuk, goreng tempe mendoan en nya...

Melatih Kecerdasan Emosional De Alifya

Bismillahirrohmanirrohim Ketika mendapat materi ketiga Bunsay ini saya sempat kaget.. kenapa.. karena materi yang dibahas sama seperti skripsi yang saya buat.. tentang kecerdasan emosional sayangnya saya tak bisa tepat waktu mengerjakan, baru dihari kelima ini saya bisa mengerjakannya. Kali ini saya memilih partner anak saya Alifya yang baru berusia 6 bulan, karena diusianya yang masuk golden ages begitu banyak potensi kecerdasan yang bisa dilatih. Pertama, saya selalu menyempatkan untuk mengajaknya berkomunikasi,berbincang-bincang dengannya, sampai apapun objek yang saya lihat saya utarakan pada Alifya, seperti sedang memakaikan pakaian, memegang tangan atau sedang jalan-jalan terkadang reflek saja menjelaskan ini-itu kepadanya. Kedua, saya berusaha untuk merespon apa yang dia ungkapkan dalam kondisi senang, menangis, jika ingin bermain, bahkan kesal karena terlalu lama menunggu. Disini saya berusaha mengungkapkan ekspresi Alifya, seperti: "dede kesel ya ditinggal ummi kedapu...