Langsung ke konten utama

FASE PERKEMBANGAN SEKSUALITAS (Review Materi Kelompok 8)



Fase oral
🐥Berdasarkan perkembangan anak, fase oral adalah tahap perkembangan area oromotor (otot daerah mulut dan pencernaan) yang berpengaruh pada perkembangan lainnya seperti berbicara dan makan. Pada fase ini bayi memusatkan stimulus pada daerah mulut dan bibir. Ia akan berusaha memasukkan semua benda yang dipegangnya ke dalam mulut karena menganggap mulut adalah tempat pemuasan kebutuhannya (oral gratification).
🐥Dalam dunia psikologi, fase oral merupakan tahap pertama perkembangan psikoseksual yang pasti dilalui setiap orang. Sejak dalam kandungan sebenarnya anak telah memasuki fase oral, yaitu dengan memasukkan jempolnya ke dalam mulut (tak heran banyak janin terekam sedang mengisap jempol saat USG 4 dimensi!). Namun, umumnya, fase oral dimulai sejak anak lahir hingga usia sekitar 18 bulan. Pada beberapa kasus, fase oral berlanjut hingga usia balita, misalnya dengan mengisap jempol atau thumb sucking hingga usia 5 tahun.
🐥Fase oral memengaruhi kematangan otot di daerah rongga mulut. Jika otot telah terbentuk matang, anak akan terbantu dalam mengembangkan kemampuan makan dan berbicara.


🐥Pada anak yang sering dilarang atau dimarahi orang tuanya ketika memasukkan jari maupun mainan ke dalam mulut, fase oralnya menjadi tidak maksimal. Artinya, hal ini dapat mengakibatkan keterlambatan perkembangan dan kematangan daerah rongga mulut sehingga mengganggu kemampuan berbicara dan makan. Contohnya, ada anak usia 2 tahun yang belum mampu mengunyah nasi dan harus terus makan bubur. Dari sisi psikoseksual, anak yang banyak dilarang saat fase oral akan merasa cemas dan tegang. Akibatnya, ia tumbuh menjadi pribadi yang tidak matang.
🐥Pada fase ini penting seorang ibu memberikan kenyamanan dan rasa aman dengan memberi kebutuhan ASI nya.
🐥Apabila fase ini tidak berkembang dengan normal maka anak pada usia remaja biasanya akan menggigit kukunya atau tetap mengedot.
🐥 Saat dewasa seseorang akan mengalami ganguan oral sadistik yg dimanisfestasikan pada kelainan seksual sadisme.
Fase anal (2-3 tahun)
🐥Fase ini merupakan salah satu fase yang tepat untuk melakukan toilet training, yaitu pelatihan menggunakan toilet pada anak. Selain itu dalam fase ini mengajarkan anak megenai adat atau cara membuang hajat penting dilakukan. Misalnya mengucapkan doa sebelum dan sesudah memasuki toilet, jongkok ketika akan membuang hajat, cara membersihkan alat kelamin setelah buang air serta menyiram bekas kotoran.
🐥Orang tua semestinya memberi pengarahan bahwa alat kelamin dan kotoran yg dia keluarkan adalah sesuatu yg wajar bukan sesuatu yg menjijikkan.
🐥 Fase ini adalah saat yang tepat untuk mengajarkan disiplin kepada anak agar ia tidak keliru mengartikan kebebasan.
🐥 Apabila fase ini tidak berkembang dengan normal maka beberapa orang lebih menyukai anal seks baik pada wanita maupun homoseksual.
🐥Kegagalan fase anal bisa membentuk karakter anak menjadi abivalensi (ragu2),berlebihan, kasar, tidak rapi, dan cenderung sadomasokis.

Fase phallic (4-6 tahun)
🐥Pada fase ini, biasanya sering muncul Oedipus Complex dan Electra Complex. Oedipus Complex merupakan rasa “suka” antara anak laki-laki dengan ibunya, sedangkan Electra Complex merupakan rasa “suka” antara anak perempuan dengan ayahnya
🐥Seringkali anak sangat penasaran dengan pertanyaan yang diajukan tentang perbedaan jenis kelamin. Orang tua harus bijak dalam memberikan penjelasan sesuai dengan kemampuan perkembangan kognitifnya agar anak mendapatkan pemahaman yang benar.
🐥Jangan langsung menegur apalagi membentak anak yang terlihat sedang memainkan alat kelaminnya. Jelaskan pada anak bagaimana ia harus menyentuh, membersihkan dan menjaga alat kelaminnya.
🐥Beritahu anak nama sebenarnya untuk alat kelaminnya.
 🐥Jika fase ini tidak dilalui dengan baik maka akan timbul masalah emosi di saat dia dewasa.
🐥 Apabila fase ini tidak berkembang dengan normal maka seseorang akan merasakan trauma terhadap hal-hal yang berbau seksual (menjadi virgid).
🐥 Traumatis pada fase ini bisa menjadi penyebab impoten premier atau ganguan seksual berupa homoseksual.


Fase latent (7-10 TAHUN)
🐥Pada fase ini orang tua diharapkan bijak dan terbuka dengan informasi yang anak terima.
🐥Dalam menjawab pertanyaan anak tentang seks orang tua harus bijaksana dalam meresponnya  dengan menjawab dengan jujur dan hangat. Luas jawaban disesuaikan dengan usia anak. Seringkali kerena begitu penasaran dengan seks anak mungkin bertindak coba-coba dengan teman sepermainan. Oleh karena itu apabila anak tidak pernah bertanya tentang seks sebaiknya orang tua waspada. Peran ibu dan ayah sangat penting dalam melakukan pendekatan dengan anak, pelajari apa yang sebenarnya sedang dipikirkan anak berkaitan dengan seks
 🐥Kegagalan pada fase ini bisa menyebabkan kurangnya kontrol diri akan pengalihan energi secara efisien pada minat belajar dan ketrampilan.

Fase genital (11-18 tahun)
🐥Dampingi selalu anak dalam fase ini. Ia akan merasakan banyak perubahan pada dirinya yang mungkin membuatnya tidak nyaman atau bingung.
🐥 Fase genital sangat erat kaitannya dengan fase phalic. Apabila fase genital tidak terpuaskan, maka fase phalic juga tidak terpuaskan.
 🐥Kegagalan pada fase ini akan menyebabkan kekacauan identitas.


Perilaku seksual seseorang sangat dipengaruhi oleh masing-masing fase. Apabila perkembangan fase berkembang dengan normal, maka perilaku seksual sesorang akan normal.
 Kondisi Seksualitas yang sehat juga menunjukkan gambaran kualitas kehidupan manusia, terkait dengan perasaan paling dalam, akrab dan intim yang berasal dari lubuk hati yang paling dalam, dapat berupa pengalaman, penerimaan dan ekspresi diri manusia. 
 Setiap tangga harus dilalui untuk menaiki tangga berikutnya. Bila satu tahapan tidak dilalui dengan sukses, dapat menyebabkan masalah menetap.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Memasak (day 7)

Hari ketujuh pada tantangan kali ini saya mencoba memasak kembali, saya mengundangan para ustadz dan ustadzah untuk ngeliwet dikantor, saya bagian masaknya. Sejak pagi saya sudah mulai siap-siap, belanja kepasar diantar oleh suami sambil bawa si kecil Alifya. Tak perlu waktu lama, cukup 30menit pulang pergi untuk belanja masakan karena pasar juga cukup dekat dari kantor. Rencana nya saya akan memasak tumis kangkung, tumis toge tahu, ayam goreng, lalap, sambal, tahu dan tempe goreng. Terlihat sederhana, tapi ketika saya kerjakan sendiri cukup merepotkan juga ditambah ngasuh Alifya alhasil kesana kemari, persiapan masak dari jam 8, baru beres jam 2 siang (diseling buat sarapan, potong-potong sayur, sholat dzuhur dll). Ketika selesai shalat dzuhur alhamdulillah ada relawan yang mau bantu-bantu, kebetulan juga Alifya lagi ga mau ditinggal, jadinya temen yang meneruskan masak. Saya sudah menyiapkan semua bumbu nya, tinggal dimasak aja, temen bagian goreng krupuk, goreng tempe mendoan en nya...

Melatih Kecerdasan Emosional De Alifya

Bismillahirrohmanirrohim Ketika mendapat materi ketiga Bunsay ini saya sempat kaget.. kenapa.. karena materi yang dibahas sama seperti skripsi yang saya buat.. tentang kecerdasan emosional sayangnya saya tak bisa tepat waktu mengerjakan, baru dihari kelima ini saya bisa mengerjakannya. Kali ini saya memilih partner anak saya Alifya yang baru berusia 6 bulan, karena diusianya yang masuk golden ages begitu banyak potensi kecerdasan yang bisa dilatih. Pertama, saya selalu menyempatkan untuk mengajaknya berkomunikasi,berbincang-bincang dengannya, sampai apapun objek yang saya lihat saya utarakan pada Alifya, seperti sedang memakaikan pakaian, memegang tangan atau sedang jalan-jalan terkadang reflek saja menjelaskan ini-itu kepadanya. Kedua, saya berusaha untuk merespon apa yang dia ungkapkan dalam kondisi senang, menangis, jika ingin bermain, bahkan kesal karena terlalu lama menunggu. Disini saya berusaha mengungkapkan ekspresi Alifya, seperti: "dede kesel ya ditinggal ummi kedapu...