Langsung ke konten utama

Mengamati Gaya Belajar (day9)

Bismillahirrohmanirrohim

Tak terasa sudah memasuki hari kesembilan pada tantangan game level 4 ini, kali ini saya akan bercerita pengalaman saya menangani Alifya yang sakit. Berawal ketika pulang kerumah kontrakan di Riung Bandung, ia nampak lesu dan badannya agak anget. Saat itu suhunya 37°C angka yang saya anggap masih normal untuk demam (padahal suhu normalnya di angka 36). Didalam kontrakan saya hanya berdua dengan Alifya, agak siang saya cek lagi badannya Alif sudah diangka 38.5°C  (mulai cemas)
Alhamdulillah nya Alif masih mau makan, tidak terlalu rewel, saya berasumsi ia tak kenapa-kenapa "nanti juga turun demamnya" ujar saya dalam hati. Saat itu saya masih agak cuek mencari informasi tentang demam pada bayi, saya masih berusaha merawat Alifya secara mandiri (mengompresnya, memberi Asi dan air yang banyak).
Sampai pada saat saya nanya ke teman-teman, bagaimana merawat bayi yang demam, dan mendapat masukan saya rasa itu sudah cukup. Keesokan harinya, tengah hari suhu Alifya mencapai 40.1°C disini saya mulai kalang kabut, mencari info ini- itu, menghubungi suami agar segera membeli parasetamol, karena dari informasi yang saya dapatkan suhu diatas 40°C bisa menyebabkan kejang, serbasalah harus berbuat apa.. T.T
Disini bisa diambil pelajaran, saya yang awalnya begitu santai menghadapi demamnya Alif karena tak tau ilmunya, menyebabkan kepanikan dikemudian hari, gaya belajar saya yang visual seharusnya bisa lebih cepat mendapat informasi tentang akibat-akibat dari demam. Alhamdulillah ada teman-teman yang memberikan saran, masukan dan info yang saya butuhkan. Jazakumullah Khairan Katsiraa buat Novy, Ajeng, Tia, Ame dan Uma yang sudah support saya, sehingga tidak terlalu panik menghadapi demamnya Alifya. Kalo dari ciri-ciri sakitnya Alifya kena  Roseola atau lebih dikenal dengan istilah tampek. hehe

#HariKe9
#Tantangan10Hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIip

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Memasak (day 7)

Hari ketujuh pada tantangan kali ini saya mencoba memasak kembali, saya mengundangan para ustadz dan ustadzah untuk ngeliwet dikantor, saya bagian masaknya. Sejak pagi saya sudah mulai siap-siap, belanja kepasar diantar oleh suami sambil bawa si kecil Alifya. Tak perlu waktu lama, cukup 30menit pulang pergi untuk belanja masakan karena pasar juga cukup dekat dari kantor. Rencana nya saya akan memasak tumis kangkung, tumis toge tahu, ayam goreng, lalap, sambal, tahu dan tempe goreng. Terlihat sederhana, tapi ketika saya kerjakan sendiri cukup merepotkan juga ditambah ngasuh Alifya alhasil kesana kemari, persiapan masak dari jam 8, baru beres jam 2 siang (diseling buat sarapan, potong-potong sayur, sholat dzuhur dll). Ketika selesai shalat dzuhur alhamdulillah ada relawan yang mau bantu-bantu, kebetulan juga Alifya lagi ga mau ditinggal, jadinya temen yang meneruskan masak. Saya sudah menyiapkan semua bumbu nya, tinggal dimasak aja, temen bagian goreng krupuk, goreng tempe mendoan en nya...

Melatih Kecerdasan Emosional De Alifya

Bismillahirrohmanirrohim Ketika mendapat materi ketiga Bunsay ini saya sempat kaget.. kenapa.. karena materi yang dibahas sama seperti skripsi yang saya buat.. tentang kecerdasan emosional sayangnya saya tak bisa tepat waktu mengerjakan, baru dihari kelima ini saya bisa mengerjakannya. Kali ini saya memilih partner anak saya Alifya yang baru berusia 6 bulan, karena diusianya yang masuk golden ages begitu banyak potensi kecerdasan yang bisa dilatih. Pertama, saya selalu menyempatkan untuk mengajaknya berkomunikasi,berbincang-bincang dengannya, sampai apapun objek yang saya lihat saya utarakan pada Alifya, seperti sedang memakaikan pakaian, memegang tangan atau sedang jalan-jalan terkadang reflek saja menjelaskan ini-itu kepadanya. Kedua, saya berusaha untuk merespon apa yang dia ungkapkan dalam kondisi senang, menangis, jika ingin bermain, bahkan kesal karena terlalu lama menunggu. Disini saya berusaha mengungkapkan ekspresi Alifya, seperti: "dede kesel ya ditinggal ummi kedapu...