Langsung ke konten utama

Mengamati Gaya Belajar (day4)

Bismillahirrohmanirrohim

Memasuki hari keempat yang jatuh pada hari ahad, seperti biasa saya menyiapkan ziyadah dan murojaah untuk disetorkan kepada ustadz. Qadarullah ustadz yang biasa menerima setoran sedang sakit sehingga digantikan terlebih dahulu oleh asisten-asistennya. Peraturan nya jika kepada asisten hanya menyetorkan ziyadahnya saja, kesempatan untuk saya juga karena murojaahnya masih belum lancar hehe.
Sebelumnya, baru kali ini saya tidak mengajak Alifya karena ia terjatuh dari tempat tidur pada hari sabtu, serta saya masih ada keperluan yang harus meninggalkan anak.
Bergegas saya menyiapkan ziyadah untuk disetorkan, surat Al-Mumtahanah, menurut saya surat ini memiliki tingkat kesulitan yang lumayan berat, hampir dua bulan saya bergelut dengam surat ini karena banyak kesamaan diawal ayat, tengah maupun akhir hehehe...
Setelah merasa cukup siap, saya mencoba menyetorkan surat ini, ayat pertama, kedua, ketiga sampai ayat ketujuh dilewati dengan lancar, memasuki ayat kedelapan dan seterusnya saya mulai mengalami kesulitan (karena banyak yang katanya sama, sehingga mudah terkecoh) memaksimalkan gambar visual yang terekam dalam pikiran, alhamdulillah bisa diselesaikan sampai akhir ayat (beberapa kali dikoreksi oleh penerima setoran).
Hasil yang saya terima hari ini saya rasakan sesuai dengan ikhtiar yang telah dilakukan, saya merasa memang tidak maksimal untuk menyiapkan ziyadah ini (fokusnya malah ke murojaah) sehingga lambat dalam ziyadah. Gaya belajar yang telah saya pelajari belum membuat diri ini memaksimalkan potensi menghafal.
Semoga bisa terus memperbaiki diri, memperbaiki cara belajar, dan memaksimalkan ikhtiar. Aamiin..

#HariKe4
#Tantangan10Hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIip

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Memasak (day 7)

Hari ketujuh pada tantangan kali ini saya mencoba memasak kembali, saya mengundangan para ustadz dan ustadzah untuk ngeliwet dikantor, saya bagian masaknya. Sejak pagi saya sudah mulai siap-siap, belanja kepasar diantar oleh suami sambil bawa si kecil Alifya. Tak perlu waktu lama, cukup 30menit pulang pergi untuk belanja masakan karena pasar juga cukup dekat dari kantor. Rencana nya saya akan memasak tumis kangkung, tumis toge tahu, ayam goreng, lalap, sambal, tahu dan tempe goreng. Terlihat sederhana, tapi ketika saya kerjakan sendiri cukup merepotkan juga ditambah ngasuh Alifya alhasil kesana kemari, persiapan masak dari jam 8, baru beres jam 2 siang (diseling buat sarapan, potong-potong sayur, sholat dzuhur dll). Ketika selesai shalat dzuhur alhamdulillah ada relawan yang mau bantu-bantu, kebetulan juga Alifya lagi ga mau ditinggal, jadinya temen yang meneruskan masak. Saya sudah menyiapkan semua bumbu nya, tinggal dimasak aja, temen bagian goreng krupuk, goreng tempe mendoan en nya...

Melatih Kecerdasan Emosional De Alifya

Bismillahirrohmanirrohim Ketika mendapat materi ketiga Bunsay ini saya sempat kaget.. kenapa.. karena materi yang dibahas sama seperti skripsi yang saya buat.. tentang kecerdasan emosional sayangnya saya tak bisa tepat waktu mengerjakan, baru dihari kelima ini saya bisa mengerjakannya. Kali ini saya memilih partner anak saya Alifya yang baru berusia 6 bulan, karena diusianya yang masuk golden ages begitu banyak potensi kecerdasan yang bisa dilatih. Pertama, saya selalu menyempatkan untuk mengajaknya berkomunikasi,berbincang-bincang dengannya, sampai apapun objek yang saya lihat saya utarakan pada Alifya, seperti sedang memakaikan pakaian, memegang tangan atau sedang jalan-jalan terkadang reflek saja menjelaskan ini-itu kepadanya. Kedua, saya berusaha untuk merespon apa yang dia ungkapkan dalam kondisi senang, menangis, jika ingin bermain, bahkan kesal karena terlalu lama menunggu. Disini saya berusaha mengungkapkan ekspresi Alifya, seperti: "dede kesel ya ditinggal ummi kedapu...