Langsung ke konten utama

Belajar Mendongeng (day3) Kancil dan Buaya

Bismillahirrohmanirrohim

KANCIL DAN BUAYA

Hari ketiga tantangan kali ini saya mendongengkan kisah kancil dan buaya, seperti yang diketahui dongeng ini sering diceritakan kepada anak-anak. Kisah tentang kancil yang cerdik ingin menyeberangi sungai namun si buaya dan teman-temannya sudah menunggu untuk memangsa si kancil.

Cerita dimulai ketika kancil ingin menyeberangi sungai yang begitu lebar dan deras airnya, di tepi sungai ia sudah diincar oleh buaya untuk dimangsa. Kancil pun memutar otaknya berusaha mencari jalan keluar agar ia bisa menyeberangi sungai tanpa dimakan si buaya. Muncul lah ide yang cerdik dari si kancil

"Hei kancil !!! Kamu datang kesini untuk menyerahkan diri ya? Aku dan teman-temanku sudah lama tak makan daging.. ha.. ha.. ha.."

sahut buaya yang begitu sombongnya

"Oh... kamu mau makan aku? Baiklah.. dagingku ini sangat banyak aku harus hitung dulu jumlah teman-temanmu agar kebagian semua, bagaimana? Mau tak? "

Setelah berdiskusi dengan teman-teman buaya akhirnya mereka setuju kancil menghitung jumlah mereka

"Oke.. baiklah.. hitung yang benar kancil.. Kami tidak mau ada yang tidak kebagian daging.."

"Oke.. oke... tenanglah.. Sekarang kalian berbaris agar aku bisa menghitung kalian"

Dengan cepat buaya-buaya itu berbaris rapi.. dari tepi sungai ke tepi yang lain. Kancil pun mulai menghitung

"Siap-siap buaya !!! Aku mulai menghitung... Satu... dua... tiga... empat..."

Ia melompat dari satu buaya ke buaya yang lain sampai hitungan kesepuluh si kancil sudah berada di seberang sungai.

"Nah kancil... bagaimana? Kami semua kebagian makan daging kau kan?"
"Iya.. cepat kemari, aku sudah tak sabar ingin makan !!!"

Sahut buaya yang lain

"Terimakasih buaya, kalian sudah membantu ku menyeberangi sungai ini.. kalian memang bodoh, bisa aku tipu.. Sekarang aku tinggal ya daaahhh..."

Kawanan buaya itu begitu marah kepada si kancil karena merasa ditipu

"Awas kau kancil... berani-beraninya menipu kami, tidak akan ku maafkan !!! "

Begitulah kisah si kancil yang cerdik dengan si buaya, ketika saya mendongeng kan kisah ini Alif sambil bermain sehingga tidak fokus mendengarkan, saya ajak Alif ikut berinteraksi seperti ketika berhitung saya ajak Alif untuk ikut melompat atau menggerakan anggota tubuh untuk membuat suasana lebih menyenangkan.

#Tantangan10Hari
#GameLevel10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Memasak (day 7)

Hari ketujuh pada tantangan kali ini saya mencoba memasak kembali, saya mengundangan para ustadz dan ustadzah untuk ngeliwet dikantor, saya bagian masaknya. Sejak pagi saya sudah mulai siap-siap, belanja kepasar diantar oleh suami sambil bawa si kecil Alifya. Tak perlu waktu lama, cukup 30menit pulang pergi untuk belanja masakan karena pasar juga cukup dekat dari kantor. Rencana nya saya akan memasak tumis kangkung, tumis toge tahu, ayam goreng, lalap, sambal, tahu dan tempe goreng. Terlihat sederhana, tapi ketika saya kerjakan sendiri cukup merepotkan juga ditambah ngasuh Alifya alhasil kesana kemari, persiapan masak dari jam 8, baru beres jam 2 siang (diseling buat sarapan, potong-potong sayur, sholat dzuhur dll). Ketika selesai shalat dzuhur alhamdulillah ada relawan yang mau bantu-bantu, kebetulan juga Alifya lagi ga mau ditinggal, jadinya temen yang meneruskan masak. Saya sudah menyiapkan semua bumbu nya, tinggal dimasak aja, temen bagian goreng krupuk, goreng tempe mendoan en nya...

Melatih Kecerdasan Emosional De Alifya

Bismillahirrohmanirrohim Ketika mendapat materi ketiga Bunsay ini saya sempat kaget.. kenapa.. karena materi yang dibahas sama seperti skripsi yang saya buat.. tentang kecerdasan emosional sayangnya saya tak bisa tepat waktu mengerjakan, baru dihari kelima ini saya bisa mengerjakannya. Kali ini saya memilih partner anak saya Alifya yang baru berusia 6 bulan, karena diusianya yang masuk golden ages begitu banyak potensi kecerdasan yang bisa dilatih. Pertama, saya selalu menyempatkan untuk mengajaknya berkomunikasi,berbincang-bincang dengannya, sampai apapun objek yang saya lihat saya utarakan pada Alifya, seperti sedang memakaikan pakaian, memegang tangan atau sedang jalan-jalan terkadang reflek saja menjelaskan ini-itu kepadanya. Kedua, saya berusaha untuk merespon apa yang dia ungkapkan dalam kondisi senang, menangis, jika ingin bermain, bahkan kesal karena terlalu lama menunggu. Disini saya berusaha mengungkapkan ekspresi Alifya, seperti: "dede kesel ya ditinggal ummi kedapu...