Awal mendapatkan tantangan ini
masih bingung, difikirkan, ditelaah, dikunyah masih juga bingung.. bentuk komunikasi formalkah,
komunikasi sehari-hari atau seperti apa.. belum terbayangkan…
Dihari pertama dari tantangan saya
baru bisa mengobservasi bentuk komunikasi dengan suami. Saya belum mengatakan
bahwa ini tantangan yang diberikan IIP untuk para membernya.
Saya ingin sedikit menceritakan
pengalaman menjadi ibu muda yang baru memiliki anak.. Alifya, pagi itu badannya
hangat, gejala batuk dan pilek. Agak parno sebenarnya, karena baru pertama
mengalami, semalaman dede Alif rewel, tidur ga nyenyak, al hasil saya dan suami
begadang kurang tidur. Segala bentuk perhatian buat dede diberikan sambil terkantuk-kantuk,
antara sadar dan tidak sadar, akhirnya Alif tidur hingga pukul 05.00 pagi. Setelah
itu Alif diasuh oleh Abinya, sedangkan saya tilawah dan membereskan ruangan
yang berantakan.
Selesai aktifitas rutin, qadarullah
belanjaan bulanan habis, biasanya kami suka kepasar bareng, karena dede Alif ga
bisa ditinggal jadilah suami yang berangkat belanja, tanpa diminta..
Alhamdulillah “Mas aja yang belanja, Eka dirumah sama dede”, me:”iya…
beli ini.. itu.. dan kawan-kawannya yaa..”
Sementara suami belanja, saya
masih berkutat mengurus Alif yang sakit, karena memang ga bisa ditinggal,
masak, nyuci dan beres-beres pun terbengkalai. Beras yang sudah dibeli belum
dimasak, tanpa mengatakan apa-apa dan tanpa rasa bersalah saya cuekin suami…
saya baru sadar setelah perut terasa lapar,sedangkan didapur belum ada
makanan.. (maafkan istrimu ini ya mas…)
Alhamdulillah, wa syukurillah
suami mengerti, akhirnya saya hanya memasak nasinya, sedangkan lauknya beli di
warteg. Kejadian seperti ini sering sekali terjadi, tapi suami ga pernah
protes, terkadang saya yang merasa malu… malu belum bisa memenuhi kebutuhan
suami,
Dari sini, saya baru menyadari betapa
tak banyak menuntutnya suami, malah turut serta membantu saya mengurus Alifya,
kadang ucapan terimakasih pun jarang terlontar, padahal begitu banyak
pengorbanan suami yang telah dilakukan,
GENGSI.. ya
kadang itu yang masih menjadi pengganjal saya tidak terlalu peduli. Maafkan maafkan
maafkan. Semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi saya kedepannya, apapun
kesibukannya, keluarga: Alifya, Suami tetap menjadi prioritas utama.
#hari1(pekapadapasangan)
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Komentar
Posting Komentar