Langsung ke konten utama

Melatih Kemandirian (day 1)

Tantangan dari IIP kali ini adalah tentang melatih kemandirian.. sempat bingung juga, kemandirian apa ya yang akan saya latih? saking terlalu banyaknya  skill yang belum saya miliki sebagai seorang ibu dan istri. Seharian kemarin sampai saat saya mau menuliskan ini, yang terpikir adalah melatih kembali kemandirian saya dalam menyiapkan hidangan *(memasak + beberesnya)*
Kenapa sich saya ngambil kegiatan itu? karena semenjak saya mengurus Alifya, masalah memasak ini jadi urusan no 1, padahal masih 1 anak, tapi maleeesssss banget buat masak mentang-mentang di tempat tinggal saya saat ini banyak sekali yang jualan mulai dari warteg, pujasera, cemilan sampe warung nasi padang hehe.
Hari pertama tantangan kemandirian ini saya berhasil membuat sarapan sederhana yaitu nasi goreng dengan bahan alakadarnya (padahal kalo orang lain mah ini teh rutinitas biasa) tapi tidak buat saya, biasanya untuk sarapan, makan siang dan malem selalu beli lauk dirumah hanya masak nasi itu juga pake *magicom* (praktis banget) hihi sedangkan untuk makan siang, saya masih beli, karena tak sempat memasak. Nah untuk makan malam, kembali saya masak tumis buncis (inipun di rurusuh karena Alifya ga mau ditinggal lama)
Alhamdulillah sisa tumpukan piring dan wajan yang masih kotor, kebiasaan saya yang belum bisa dirubah adalah membiarkan cucian piring kotor sampai hari berikutnya.. (jangan ditiru ya) karena udah terlalu lelah, sehingga saya abaikan..
Mudah-mudahan besok, bisa diselesaikan.
Memulai kembali kebiasaan yang telah lama ditinggalkan ternyata sulit yaa.. tapi insyaAllah saya berusaha untuk konsisten menjalankannya.. Aamiin

#HariPertama
#Tantangan10hari
#Level2
#KuliahBunSay
#MelatihKemandirian

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Memasak (day 7)

Hari ketujuh pada tantangan kali ini saya mencoba memasak kembali, saya mengundangan para ustadz dan ustadzah untuk ngeliwet dikantor, saya bagian masaknya. Sejak pagi saya sudah mulai siap-siap, belanja kepasar diantar oleh suami sambil bawa si kecil Alifya. Tak perlu waktu lama, cukup 30menit pulang pergi untuk belanja masakan karena pasar juga cukup dekat dari kantor. Rencana nya saya akan memasak tumis kangkung, tumis toge tahu, ayam goreng, lalap, sambal, tahu dan tempe goreng. Terlihat sederhana, tapi ketika saya kerjakan sendiri cukup merepotkan juga ditambah ngasuh Alifya alhasil kesana kemari, persiapan masak dari jam 8, baru beres jam 2 siang (diseling buat sarapan, potong-potong sayur, sholat dzuhur dll). Ketika selesai shalat dzuhur alhamdulillah ada relawan yang mau bantu-bantu, kebetulan juga Alifya lagi ga mau ditinggal, jadinya temen yang meneruskan masak. Saya sudah menyiapkan semua bumbu nya, tinggal dimasak aja, temen bagian goreng krupuk, goreng tempe mendoan en nya...

Melatih Kecerdasan Emosional De Alifya

Bismillahirrohmanirrohim Ketika mendapat materi ketiga Bunsay ini saya sempat kaget.. kenapa.. karena materi yang dibahas sama seperti skripsi yang saya buat.. tentang kecerdasan emosional sayangnya saya tak bisa tepat waktu mengerjakan, baru dihari kelima ini saya bisa mengerjakannya. Kali ini saya memilih partner anak saya Alifya yang baru berusia 6 bulan, karena diusianya yang masuk golden ages begitu banyak potensi kecerdasan yang bisa dilatih. Pertama, saya selalu menyempatkan untuk mengajaknya berkomunikasi,berbincang-bincang dengannya, sampai apapun objek yang saya lihat saya utarakan pada Alifya, seperti sedang memakaikan pakaian, memegang tangan atau sedang jalan-jalan terkadang reflek saja menjelaskan ini-itu kepadanya. Kedua, saya berusaha untuk merespon apa yang dia ungkapkan dalam kondisi senang, menangis, jika ingin bermain, bahkan kesal karena terlalu lama menunggu. Disini saya berusaha mengungkapkan ekspresi Alifya, seperti: "dede kesel ya ditinggal ummi kedapu...