Langsung ke konten utama

Lahap Ilmu!!! Ini Isi Piring Makananku #Jurnal 5

Alhamdulillah, sudah masuk pekan kelima Tahap Ulat - ulat.. Ya, kami yang pekan kemarin sempat menjadi telur kini telah menetas menjadi ulat - ulat yang mungil dan siap untuk mencari makanan yang bergizi. Sebelumnya kami diberikan sebuah pin penghargaan karena telah menyelesaikan tahap telur - telur selama 4 pekan. Lucu dan imut bukan pinnya?
Selain itu, kami yang mengungkapkan aliran rasa pada tahap pertama juga diberikan tambahan perbekalan untuk menjelajahi The Junggle of Knowledge sebuah headlamp untuk menerangi hutan yang akan saya lalui dengan teman - teman di Bunda Cekatan ini: 
Baik, saya masukkan semua perbekalan pada ransel yang telah disediakan, tak lupa membawa Teropong, Kompas Strong Why, dan Peta belajar. Saya siap menjelajahi hutan pengetahuan dengan memegang erat perbekalan agar tak tersesat.
Memasuki belantara ilmu pengetahuan saya bertemu kunang - kunang Iqiq Febrilian, beliau mewanti - wanti untuk tetap berpegang pada mindmap agar tidak kesasar di hutan. Repot juga kan kalau kesasar hihi.. 
Kami diceritakan tentang ulat yang akan bermertamorfosis menjadi kupu - kupu yang cantik. Kupu - kupu akan menetaskan telurnya di daun yang bekualitas, setelah menetas menjadi ulat, ia akan mencari makan yang bekualitas pula. Memilih makanan yang halal dan thayib. Tugas ulat kecil adalah makan untuk memenuhi nutrisi dirinya. 
Seperti di Bunda Cekatan ini, kami diminta memilih dan memilah ilmu yang diperlukan, tetangga sebelah mungkin makanannya enak tapi ternyata bukan itu yang kita butuhkan, jadi fokuslah dengan apa yang kita perlukan. Saatnya kami mengumpulkan referensi sebanyak yang kita butuhkan, sebagai panduannya lihatlah mindmap kembali. Ini revisi mindmap yang saya buat dipekan sebelumnya:
Dan ini adalah makananku dipekan pertama Tahap Ulat - ulat:
Untuk sumber ilmu saya fokuskan pada pembelajaran Buku Terjemah Tajwid Jazariyyah karya Maftuh Basthul Birri dan Laili Al Fadhi, sedangkan untuk sumber ilmu online saya mengakses channel IAC Indonesia dan Metode Maqdis. Sumber ilmu tersebut bagi saya cukup lengkap untuk membahas buku tajwid dan metode pengajaran Tahsin.
Sedangkan untuk Topik belajar saya tulis seperti dibawah ini:
Saya masih mencari - cari sumber ilmu untuk point mengelola emosi dan bersih - bersih kilat yang cukup sederhana untuk menunjang belajar saya memahami buku Tajwid Jazariyyah. Sambil jalan - jalan di isi piring makanan teman - teman yang lain, seiring berjalannya kelas Bunda Cekatan ini semoga segera saya temukan teman - teman yang ilmunya beririsan dengan topik yang saya ambil.

#institutibuprofesional
#hutankupucekatan
#tahapulat
#inimakananku




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Memasak (day 7)

Hari ketujuh pada tantangan kali ini saya mencoba memasak kembali, saya mengundangan para ustadz dan ustadzah untuk ngeliwet dikantor, saya bagian masaknya. Sejak pagi saya sudah mulai siap-siap, belanja kepasar diantar oleh suami sambil bawa si kecil Alifya. Tak perlu waktu lama, cukup 30menit pulang pergi untuk belanja masakan karena pasar juga cukup dekat dari kantor. Rencana nya saya akan memasak tumis kangkung, tumis toge tahu, ayam goreng, lalap, sambal, tahu dan tempe goreng. Terlihat sederhana, tapi ketika saya kerjakan sendiri cukup merepotkan juga ditambah ngasuh Alifya alhasil kesana kemari, persiapan masak dari jam 8, baru beres jam 2 siang (diseling buat sarapan, potong-potong sayur, sholat dzuhur dll). Ketika selesai shalat dzuhur alhamdulillah ada relawan yang mau bantu-bantu, kebetulan juga Alifya lagi ga mau ditinggal, jadinya temen yang meneruskan masak. Saya sudah menyiapkan semua bumbu nya, tinggal dimasak aja, temen bagian goreng krupuk, goreng tempe mendoan en nya...

Melatih Kecerdasan Emosional De Alifya

Bismillahirrohmanirrohim Ketika mendapat materi ketiga Bunsay ini saya sempat kaget.. kenapa.. karena materi yang dibahas sama seperti skripsi yang saya buat.. tentang kecerdasan emosional sayangnya saya tak bisa tepat waktu mengerjakan, baru dihari kelima ini saya bisa mengerjakannya. Kali ini saya memilih partner anak saya Alifya yang baru berusia 6 bulan, karena diusianya yang masuk golden ages begitu banyak potensi kecerdasan yang bisa dilatih. Pertama, saya selalu menyempatkan untuk mengajaknya berkomunikasi,berbincang-bincang dengannya, sampai apapun objek yang saya lihat saya utarakan pada Alifya, seperti sedang memakaikan pakaian, memegang tangan atau sedang jalan-jalan terkadang reflek saja menjelaskan ini-itu kepadanya. Kedua, saya berusaha untuk merespon apa yang dia ungkapkan dalam kondisi senang, menangis, jika ingin bermain, bahkan kesal karena terlalu lama menunggu. Disini saya berusaha mengungkapkan ekspresi Alifya, seperti: "dede kesel ya ditinggal ummi kedapu...