Langsung ke konten utama

Belajar Cara Belajar Tahap Telur Oranye #Jurnal 3


Assalamu'alaikum.. Alhamdulillah pekan ini kami masuk ke tahap telur oranye. Dipekan ketiga ini kami diajak untuk bisa memilih dan memilah kebutuhan belajar. Kami diminta untuk berani tegas untuk jujur sedang membutuhkan pembelajaran apa? Dengan menggunakan 5W 1H + Fell kami bertanya pada diri sendiri:

Saya mau belajar apa?
Saya mau belajar dengan siapa?
Mengapa saya mau belajar hal tersebut?
Kapan saya mau belajar?
Saya mau belajar dimana?
Bagaimana saya akan mempelajarinya?
dan bagaimana perasaan saya ketika belajar hal tersebut?

Menjadi tanda tanya besar untuk saya ketika dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan diatas. Benarkah pilihan yang saya buat adalah yang paling saya butuhkan? atau saya hanya ikut-ikutan ketika membuat list ditelur merah? Jujurkah saya ingin belajar hal tersebut? Pertanyaan yang perlu diamati, direnungkan dan dikonfirmasi berulang-ulang didalam diri. 

Kemudian kunang-kunang mba Farda mengajak kita untuk membuat peta belajar agar pembelajaran yang kita ikuti bisa on track. Peta belajar memudahkan kita untuk menelusuri dan mendalami sebuah ilmu. Jika ditengah perjalanan kita oleng, limbung dan bingung kita bisa membuka kembali peta belajar kita. Prinsip yang dipegang saat kita mencari ilmu:
1. Empati dengan kebutuhan diri kita. Apakah kebutuhan tersebut penting dan mendesak, tidak penting tapi mendesak, tidak penting dan tidak mendesak. Kita bisa menilainya sendiri.
2. Desain dan development. Yakni kita cermati sumber daya diri dan lingkungan, apakah memungkinkan? mencari sumber belajar dan mencari sumber mentor / coach support sistem.
3. Implementasi - Review. Yaitu menguji coba ilmu yang telah kita pelajari, apakah sesuai dengan harapan atau ada yang perlu dievaluasi. 

Mencari STRONG WHY karena alasan inilah kita belajar, kami dilatih untuk berkomitmen dan konsisten sehingga dapat menaikan daya juang dalam mencari ilmu. Semakin kuat strong why yang kita punya semakin kuat pula kita berjuang mencapainya. Harapannya ketika belajar semakin mencintai diri sendiri, jika tidak ada perubahan pada diri kita berarti ada yang salah dengan belajarnya. Beberapa tahap menemukan strong why:
1. Menetapkan tujuan belajar
2. Mencari sumber ilmu
3. Mencari kebutuhan ilmu
4. Bagaimana cara belajarnya

Setelah saya membuka kembali jurnal ditelur merah dan telur hijau, mempertimbangkan kemungkinan - kemungkinan yang bisa diambil, melihat kegiatan yang bisa dan disukai serta keterampilan yang penting dan mendesak, saya menemukan benang merahnya. Inilah Strong Why  yang saya temukan:

Aha! dan saya telah menemukan telur-telur oranye yang ingin dikuasai selama perkuliahan bunda cekatan ini


1. Mengelola Emosi
Mengapa mengelola emosi saya masukkan kedalam telur oranye? karena saat ini saya memiliki 2 anak yang jaraknya berdekatan, saya membutuhkan cara mengelola emosi yang tepat agar tidak gampang terbawa emosi saat menghadapi anak - anak.

2. Komunikasi Efektif & Efisien
Komunikasi produktif pun sangat saya butuhkan saat ini, untuk menunjang pengasuhan anak, berkomunikasi dengan suami, anggota keluarga yang lain serta tetangga yang berinteraksi dengan saya.

3. Bersih - bersih Rumah
Menjadi peer besar untuk saya membersihkan rumah, karena memiliki anak - anak yang aktif, sehingga diperlukan cara beres- beres rumah yang cepat dan efektif.

4. Belajar Tahsin Lanjutan
Ini adalah keinginan saya untuk meng-upgrade diri agar kemampuan saya dalam bertilawah dan mempelajari tahsin semakin mahir, serta dengan modal ini saya bisa mengajarkan Al-Quran pada anak - anak.

#institutibuprofesional
#hutankupucekatan
#teluroranye
#temukancarabelajarmu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Memasak (day 7)

Hari ketujuh pada tantangan kali ini saya mencoba memasak kembali, saya mengundangan para ustadz dan ustadzah untuk ngeliwet dikantor, saya bagian masaknya. Sejak pagi saya sudah mulai siap-siap, belanja kepasar diantar oleh suami sambil bawa si kecil Alifya. Tak perlu waktu lama, cukup 30menit pulang pergi untuk belanja masakan karena pasar juga cukup dekat dari kantor. Rencana nya saya akan memasak tumis kangkung, tumis toge tahu, ayam goreng, lalap, sambal, tahu dan tempe goreng. Terlihat sederhana, tapi ketika saya kerjakan sendiri cukup merepotkan juga ditambah ngasuh Alifya alhasil kesana kemari, persiapan masak dari jam 8, baru beres jam 2 siang (diseling buat sarapan, potong-potong sayur, sholat dzuhur dll). Ketika selesai shalat dzuhur alhamdulillah ada relawan yang mau bantu-bantu, kebetulan juga Alifya lagi ga mau ditinggal, jadinya temen yang meneruskan masak. Saya sudah menyiapkan semua bumbu nya, tinggal dimasak aja, temen bagian goreng krupuk, goreng tempe mendoan en nya...

Melatih Kecerdasan Emosional De Alifya

Bismillahirrohmanirrohim Ketika mendapat materi ketiga Bunsay ini saya sempat kaget.. kenapa.. karena materi yang dibahas sama seperti skripsi yang saya buat.. tentang kecerdasan emosional sayangnya saya tak bisa tepat waktu mengerjakan, baru dihari kelima ini saya bisa mengerjakannya. Kali ini saya memilih partner anak saya Alifya yang baru berusia 6 bulan, karena diusianya yang masuk golden ages begitu banyak potensi kecerdasan yang bisa dilatih. Pertama, saya selalu menyempatkan untuk mengajaknya berkomunikasi,berbincang-bincang dengannya, sampai apapun objek yang saya lihat saya utarakan pada Alifya, seperti sedang memakaikan pakaian, memegang tangan atau sedang jalan-jalan terkadang reflek saja menjelaskan ini-itu kepadanya. Kedua, saya berusaha untuk merespon apa yang dia ungkapkan dalam kondisi senang, menangis, jika ingin bermain, bahkan kesal karena terlalu lama menunggu. Disini saya berusaha mengungkapkan ekspresi Alifya, seperti: "dede kesel ya ditinggal ummi kedapu...